Berantem // Anak kecil Vs Orang tua

Bedanya anak kecil dengan orang tua ketika berantem

Versi anak kecil:

A:”Gua laporin lu ke bapak gua”

B:”Gua laporin juga lu ke bapak gua”

Pulang ke rumah, keduanya dimarahin orang tua masing-masing. Keesokan harinya kedua anak tersebut main bareng lagi dengan damai tanpa ada dendam.

Versi orang tua:

C: “Gua laporin polisi lu”

D: “Coba aja kalau berani, gua laporin balik”

Keduanya lalu laporan dan diproses oleh polisi. Selanjutnya keduanya musuhan tanpa mau kenal satu sama lain.

Intinya kalau ada yang bilang kekanak-kanakan biarin aja, karena anak-anak itu lebih mudah menyelesaikan masalah daripada orang tua 😀

Selamat Tahun Baru 2017

Saya termasuk yang jarang merayakan malam pergantian tahun baru. Alasannya bukan karena tidak suka atau tidak mau, tetapi karena saya tidak kuat begadang hehehe..

Seperti tadi malam, saya ketiduran dari jam 20.00 dan bangun persis adzan subuh berkumandang di mesjid. Tak kedengeran sedikit pun bunyi petasan atau kembang api. Tak salah memang anak-anak saya menggelari ayahnya “Mister bobo” 😀

Anyway, selamat tahun baru 2017. Semoga kita semua terus berproses semakin baik ke ATAS maupun ke samping.

 

Akses Jurnal berbayar

Seringkali kita berburu referensi di google scholar dan menemukan referensi-referensi menarik tapi kemudian akses-nya terbatas hanya di abstrak. Hal ini biasanya terjadi karena institusi/universitas tidak berlangganan jurnal tersebut. Dua tips berikut dapat anda coba:

  • Gunakan jejaring/teman yang sekolah di luar negeri. Faktanya, banyak universitas di LN yang berlangganan dengan database jurnal yang beragam. Minta tolong teman untuk akses full text (pdf) dan kemudian mengirimkan via email
  • Kontak corresponding author. Banyak author yang dengan senang hati akan berbagi paper mereka secara gratis. Sebenarnya jika harus memilih, para penulis paper (termasuk saya) ingin agar tulisannya dapat diakses oleh sebanyak-banyaknya pembaca. Hal ini dapat dilakukan dengan memilih untuk publikasi open access. Namun, open access akhirnya menjadi pilihan kesekian karena penulis dihadapkan pada konsekuensi untuk membayar biaya publikasi yang cukup mahal. Alternatif yang dipilih akhirnya menyerahkan copyright dari penulis ke penerbit. Copyright transfer ini membuat penulis tidak harus membayar biaya apapun untuk publikasi (berlaku khususnya bagi jurnal-jurnal bagus dan memiliki reputasi dengan Impact Factor).

Semoga bermanfaat.

Dana riset minim, bukan alasan!

Banyak peneliti yang selalu mengeluh bahwa dana riset yang tersedia sangat minim untuk menghasilkan riset yang unggul atau berdampak luar biasa.

Stop complaining!

Itu hanya alasan bagi yang malas dan akhirnya menjadi alibi yang umum banyak peneliti. Di tengah keterbatasan, banyak peneliti yang kemudian menjadi lebih kreatif dalam berkarya.

UUD, ujung-ujungnya duit, betul!. Untuk riset peneliti butuh dana. Tapi kalau dana minim bukan lagi alibi yang tepat di jaman sekarang. Dana riset yang tersedia cukup melimpah. Dari yang orde-nya 50 juta sampai 2 M juga ada. Its’ a matter of being competitive. Waktunya kita menjadi pemain. Bukan lagi hanya menunggu disuapi.

Saya mengambil contoh di Eropa, Prof. yang tidak mendapatkan grant untuk penelitian tidak akan memiliki tim riset dan ujung-ujungnya lab akan ditutup. Sangat bertolak belakang dengan kondisi yang terjadi di tanah air.

Beberapa kondisi klasik lainnya adalah track record. Banyak peneliti yang memilih untuk menjadi opportunis dibandingkan dengan membangun expertise dari track record yang konsisten.

Kunci lain adalah membangun kolaborasi. Percayalah, semakin kita ingin maju, semakin kita merasa bahwa kita memiliki banyak kekurangan. Disinilah pentingnya kolaborasi dibangun. Lionel Messi yang didaulat sebagai pemain terbaik dunia untuk level individu juga ngga bisa ngalahin Persib Bandung yang turun full team 🙂

#RenunganPagi

 

 

Penulisan proposal – Rencana Anggaran dan Biaya

Tentunya bagi seorang peneliti, proposal riset merupakan salah satu senjata yang harus dipersiapakan dengan baik. Bagaimanapun, peneliti sangat tergantung dengan dana penelitian dan untungnya pemerintah membuka keran yang lebar untuk itu, selain sumber dana dari swasta.

Nah, alokasi dana tersebut harus diperebutkan oleh sejumlah peneliti di seluruh Indonesia dengan syarat yang gampang-gampang susah yaitu menulis proposal.

Proposal yang baik selain membawa misi yang jelas, juga harus disertai dengan novelty (kebaruan) sehingga menjadi daya tawar kenapa si penyandang dana bersedia membiayai proposal yang diajukan.

Salah satu hal yang penting dalam proposal adalah penyusunan RAB. RAB harus dipersiapkan dengan baik sehingga dana yang diajukan pas, jangan sampai kurang dan usahakan tidak lebih karena semua pengeluaran harus dipertanggungjawabkan.

Namun, beberapa peneliti mungkin tidak mempersiapkan RAB dengan baik sehingga kondisinya jadi seperti di snap shot berikut. Hampir setengah milyar dari RAB hanya untuk upah/honor hehehe…, tidak ada alokasi dana untuk alat dan bahan, padahal proposal yang diajukan harus dikerjakan dilaboratorium. Kemungkinan sih kesalahan teknis 🙂

Screen Shot 2015-11-23 at 3.41.59 PM

Sebagai reviewer, proposal seperti ini biasanya saya tolak. Minimal dikembalikan untuk direvisi dan silakan diajukan kembali pada kesempatan berikutnya 🙂

 

 

Writing a book (still dreaming)

Salah satu target yang  dicanangkan di awal tahun 2015 dan hampir pasti tidak tercapai tahun ini adalah menulis buku teks.

Perjalanan 2015 ternyata makin disibukkan dengan berbagai pekerjaan kantor, kuliah dan administrasi lainnya, sehingga beberapa target terpaksa ditunda.

Kegiatan scientific writing juga jauh melambat. Yah bandingannya sih pas PhD dimana fokus cuma belajar, nulis paper cukup 2-3 minggu udah beres. Sekarang ordenya naik dari minggu ke bulan :). Nulis satu draft paper butuh waktu paling cepat 3 bulan hehehe…

Yang pasti menulis buku tetap menjadi salah prioritas yang harus diwujudkan sebelum hanya tersimpan di ruang memori kepala.

There’s no harm in dreaming!

The Power of Networking

Tadi malam tiba-tiba saja saya mendapat email urgent dari Ketua International Relation Office dari salah satu universitas terkemuka di negara tetangga yang meminta rekomendasi 2 orang dosen ITB untuk mengikuti workshop tentang pemuliaan tanaman. All travel expenses and accommodation are provided. Wah enak benar.

Tentu saja saya langsung merespon positif. Sebenarnya dia mengharapkan saya bisa hadir karena kami sudah saling mengenal dan dia cukup tahu bahwa saya terlibat penelitian dengan Biologi Tumbuhan. Disini memang terlihat bahwa punya relasi dan koneksi dengan banyak orang bisa jadi sangat menguntungkan. Peluang seperti ini tidak akan datang tanpa adanya koneksi yang baik, dan kepercayaan itu tidak datang dengan sendirinya. The power of networking 🙂

Namun sayang saya sendiri harus melewatkan kesempatan baik ini karena posisi yang sedang siaga 1. Setidaknya saya masih bisa mengusulkan nama lain dimana untuk ke depannya saya juga masih bisa tetap terlibat.

AF

 

 

h-index google scholar vs ISI/Scopus

Masih tentang h-index, cara menghitungnya dapat dilihat disini

Beberapa pendanaan riset yang ditawarkan DIKTI menggunakan h-index sebagai standar. Namun, yang saya perhatikan untuk riset-riset di DIKTI biasanya mengacu pada h-index dari ISI/Scopus.

Menurut saya untuk pengukuran h-index, google scholar lebih akurat dan lebih update dibandingkan keduanya.

Sebagai contoh hari ini per tanggal 7 April 2015, di scopus h-index saya = 3 dengan total sitasi 37. Berbeda dengan yang tertera di google scholar dengan h-index = 4 dan jumlah sitasi = 59

Perbedaan ini agak mengganggu karena pengajuan proposal riset bisa terkendala akibat perbedaan dalam mengacu pada h-index.